Minggu lalu gue duduk di ruang tunggu klinik anak, sendirian, sambil ngeliatin anak gue yang lagi batuk-batuk di pangkuan istri gue. Bukan anaknya yang bikin gue kepikiran — itu udah biasa, anak SD emang gampang kena virus. Yang bikin gue kaget justru hasil cek tensi gue sendiri: 145/95. Gue masih 34 tahun, Bro. Perasaan baru kemarin gue masih bisa begadang nonton bola tanpa efek apa-apa.
Dokter yang periksa anak gue cuma nyengir sambil bilang, "Bapaknya yang harus jaga kesehatan juga, nih." Kalimat itu nempel banget di kepala gue. Pulang dari klinik, gue mulai ngeh: sejak anak pertama masuk SD, hidup gue berubah pelan-pelan tanpa gue sadari. Dan perubahan itu hampir semuanya ke arah yang salah.
Baca juga: Gue Akui Tiga Kebiasaan Remeh Ini Menyelamatkan Badan Gue
Kopi Sebelum Sarapan, Sarapan Sambil Berdiri
Ini kebiasaan pertama yang gue sadar paling parah. Dulu gue bisa sarapan tenang sambil baca berita. Sekarang? Bangun jam 5, langsung nyeduh kopi, lalu sibuk nyiapin bekal, nyisir rambut anak, nyariin sepatu yang entah kenapa selalu ilang satu. Sarapan gue sering cuma sisa roti anak yang nggak habis, dimakan sambil berdiri di depan pintu.
Istri gue pernah tegur, "Kamu tuh kayak robot yang baterainya sekarat." Dan itu bener banget. Gue ngerasa lelah sepanjang hari, tapi nggak ngerti kenapa. Ternyata pola makan yang berantakan plus kopi kosong di pagi hari bikin gula darah gue naik-turun nggak karuan. Efeknya ya itu: ngantuk jam 10, lemas jam 2, terus melek lagi jam 9 malam gara-gara kebanyakan kopi.
Yang gue pelajari, buat orang tua baru, sarapan itu bukan soal makan banyak. Cukup ada protein dan karbohidrat kompleks. Telur rebus dua butir, atau nasi sedikit sama telur dadar. Lima menit doang. Nggak perlu mewah.
Tidur yang Selalu "Nanti Dulu"
Ini yang paling sering gue bohongin ke diri sendiri. "Nanti dulu, habisin kerjaan." "Nanti dulu, nonton satu episode." "Nanti dulu, anak baru tidur, gue pengen me-time dikit." Ujung-ujungnya gue tidur jam 12, bangun jam 5, dan bilang ke semua orang kalau gue "cuma kurang tidur sedikit".
Padahal kurang tidur itu bukan hal kecil. Gue baca di beberapa sumber kesehatan, orang dewasa yang tidur kurang dari 6 jam sehari punya risiko lebih tinggi kena tekanan darah tinggi, gula darah naik, dan imun drop. Dan buat orang tua yang tiap hari ketemu virus dari anak sekolah, imun drop itu artinya gue yang kena batuk berikutnya.
Gue pernah seminggu full kena flu, dan anak gue yang bawa virusnya cuma pilek dua hari. Ironis, kan?
Yang gue coba sekarang: nggak nunggu "waktu sempurna" buat tidur. Kalau anak udah tidur jam 9, gue ikut tidur. Kerjaan yang belum kelar? Besok pagi. Nggak ideal, tapi badan gue jauh lebih waras dibanding dulu.
Jalan Kaki yang Diganti Motor
Dulu gue jalan kaki ke warung, ke halte, ke mana-mana. Sekarang? Semua pakai motor, bahkan buat beli mie instan di depan komplek. Alasan gue klasik: buru-buru, anak udah nunggu, capek.
Masalahnya, gerak badan itu bukan cuma soal olahraga gym. Jalan kaki 10-15 menit sehari udah cukup buat bantu sirkulasi darah dan nurunin stres ringan. Dan buat orang tua yang otaknya penuh sama jadwal sekolah, PR anak, dan tagihan, jalan kaki itu semacam terapi murah. Gue coba jalan kaki anterin anak ke sekolah yang jaraknya cuma 800 meter. Awalnya berat, sekarang malah jadi waktu favorit gue buat ngobrol sama anak tanpa gangguan HP.
Yang Perlu Dicatat: Bukan Olahraga Berat, Tapi Konsistensi
Gue sempat salah kaprah. Gue pikir biar sehat, gue harus lari 5 km tiap hari atau gym 3x seminggu. Ujungnya gue cuma semangat dua minggu, terus berhenti. Yang akhirnya nempel justru hal-hal kecil: jalan kaki, naik tangga, nggak duduk kelamaan.
- Jalan kaki 15 menit setelah makan malam, sambil ajak anak.
- Naik tangga kalau cuma naik 2-3 lantai, jangan langsung lift.
- Berdiri tiap 45 menit kalau lagi kerja di depan laptop.
- Minum air putih sebelum ngopi, bukan sesudahnya.
Kenapa Orang Tua Baru Sering Lupa Diri Sendiri
Gue nggak mau sok tahu soal psikologi, tapi dari pengalaman gue sendiri, jadi orang tua itu bikin kita otomatis naruh diri di urutan terakhir. Anak sakit, kita jaga. Anak lapar, kita masak. Anak ulangan, kita temenin belajar. Sementara kita sendiri makan sembarangan, tidur kurang, dan nggak pernah cek kesehatan sampai ada yang bener-bener rusak.
Padahal, kalau kita drop, siapa yang jaga anak? Ini bukan soal egois atau nggak. Ini soal logika sederhana. Orang tua yang sehat itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan dasar keluarga.
Istri gue pernah bilang satu hal yang gue inget sampai sekarang: "Kamu nggak bisa ngasih yang terbaik kalau wadahnya udah bocor." Wadahnya ya badan kita sendiri. Dan kebocoran itu biasanya bukan dari hal besar, tapi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita anggap remeh tiap hari.
Gue nggak bilang gue udah sembuh dari kebiasaan buruk ini. Masih sering gue lupa sarapan, masih sering gue begadang nonton. Tapi setidaknya sekarang gue sadar, dan sadar itu langkah pertama. Buat kamu yang lagi di fase yang sama — anak baru masuk sekolah, kerjaan numpuk, badan mulai protes — coba deh lihat lagi hal-hal kecil yang kamu anggap nggak penting. Kadang justru dari situ sumber masalahnya.
Mulai dari satu hal aja minggu ini. Nggak usah langsung semuanya. Badan kamu bakal bilang makasih, kok. Pelan-pelan aja.